RESUME BAB 3 URGENSI INTEGRASI NASIONAL
Nama : Siti Aminah Lubis
NIM : 12405061030064
A. KONSEP DAN URGENSI INTEGRASI NASIONAL
- MAKNA INTEGRASI NASIONAL
ETIMOLOGI
Integrasi adalah pembaharuan sampai menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh.
Nasional berarti bangsa.
TERMINOLOGI
Konsep integrasi nasional dihubungkan dengan konteks tertentu dan umumnya dikemukakan oleh para ahlinya.
- JENIS-JENIS INTEGRASI
5 Jenis integrasi politik menurut Myron Weiner, yaitu
1. Integrasi Bangsa
Penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial dalam satu kesatuan wilayah dan dalam suatu pembentukan identitas nasional.
2. Integrasi Wilayah
Pembentukan wewenang kekuasaan nasional pusat di atas unit-unit sosial yang lebih kecil, yaitu kelompok sosial budaya masyarakat tertentu.
3. Integrasi Elit-massa
Masalah penghubungan antara pemerintahan dengan yang diperintah.
4. Integrasi Nilai
Adanya consensus terhadap nilai minimum yang diperlukan dalam memelihara tata tertib sosial.
5. Integrasi Tingkah Laku
Penciptaan tingkah laku yang terintegrasi agar dapat diterima demi mencapai tujuan bersama.
3 Aspek Integrasi Nasional
1. Integrasi Politik
Dalam tataran integrasi politik terdapat dimensi vertikal dan horizontal. Dimensi yang bersifat vertikal menyangkut hubungan elit dan massa, sedangkan dimensi horizontal menyangkut hubungan yang berkaitan dengan masalah teritorial, antar daerah, antar suku, umat beragama dan golongan masyarakat Indonesia.
2. Integrasi Ekonomi
Integrasi ekonomi berarti terjadinya saling ketergantungan antar daerah dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup rakyat.
3. Integrasi Sosial Budaya
Integrasi ini merupakan proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi ras, etnis, agama bahasa, kebiasaan, sistem nilai, dan lain sebagainya.
- PENTINGNYA INTEGRASI
Integrasi nasional sangat penting dalam pembentukan negara-bangsa karena hanya dengan pemerintahan yang sah dan didukung oleh rakyat, tujuan negara bisa tercapai. Selain itu, negara-bangsa sering kali terdiri dari berbagai suku dengan ikatan etnik yang kuat, yang jika diabaikan bisa menyebabkan disintegrasi.
Oleh karena itu, integrasi nasional diperlukan untuk mengatasi potensi konflik primordial dan menciptakan kesetiaan baru terhadap identitas nasional, seperti bahasa, simbol negara, dan ideologi.
- INTEGRASI VS DISINTEGRASI
Disintegrasi adalah kebalikan dari integrasi, yang berarti keterpecahan atau ketidakpaduan di antara unsur-unsur masyarakat. Jika integrasi menghasilkan kesepakatan, disintegrasi menyebabkan konflik dan perselisihan.
Disintegrasi bangsa terjadi ketika kesatuan antar kelompok dalam suatu negara melemah. Meskipun masyarakat menginginkan integrasi, gejala disintegrasi seperti pertentangan fisik, kerusuhan, atau bahkan perang tetap dapat muncul.
B. ALASAN MENGAPA DIPERLUKAN INTEGRASI NASIONAL
Integrasi nasional diperlukan karena beberapa alasan penting, terutama dalam menjaga keutuhan dan kemajuan suatu negara yang memiliki keragaman. Berikut adalah beberapa alasan mengapa integrasi nasional sangat penting:
1. Mencegah Konflik dan Perpecahan
Dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, dan bahasa, potensi konflik antar kelompok bisa tinggi. Integrasi nasional membantu menciptakan harmoni dan rasa persatuan sehingga perbedaan tersebut tidak menjadi sumber konflik.
2. Memperkuat Persatuan dan Kesatuan
Dengan persatuan yang kuat, negara menjadi lebih stabil dan kokoh dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun luar.
3. Menjamin Stabilitas Politik
Jika masyarakat sudah terintegrasi dengan baik, stabilitas politik akan lebih mudah tercapai. Pemerintahan akan lebih lancar menjalankan fungsinya tanpa gangguan besar dari separatisme atau pemberontakan karena perbedaan kepentingan antar kelompok.
4. Mempercepat Pembangunan
Dengan adanya persatuan, semua kelompok masyarakat dapat bekerja sama menuju tujuan yang sama, yaitu pembangunan bangsa. Ini akan meningkatkan kesejahteraan bersama dan mempercepat kemajuan sosial dan ekonomi.
5. Memelihara Identitas Nasional
Di tengah arus globalisasi, penting bagi suatu negara untuk mempertahankan identitas nasionalnya. Integrasi nasional membantu menjaga nilai-nilai kebangsaan, tradisi, dan kebudayaan yang membedakan suatu bangsa dari bangsa lain.
6. Mengatasi Ancaman Eksternal
Sebuah bangsa yang terintegrasi dengan baik akan lebih kuat menghadapi ancaman dari luar, seperti campur tangan asing atau konflik internasional, karena warganya bersatu dalam mempertahankan negara.
Dapat disumpulkan secara keseluruhan, integrasi nasional penting untuk memastikan negara tetap solid, stabil, dan mampu bergerak maju di tengah keberagaman masyarakatnya.
C. MENGGALI SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS, POLITIK INTEGRASI NASIONAL
Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik tentang Integrasi Nasional
1. Perkembangan sejarah integrasi di Indonesia
Menurut Suroyo (2002), perkembangan sejarah integritas dibagi menjadi tiga model yaitu:
a) Model integrasi imperium Majapahit
Model integrasi Majapahit berbentuk kemaharajaan (imperium) dengan struktur konsentris yang terbagi menjadi tiga lapisan:
1. Konsentris pertama:
Wilayah inti (nagaragung), yaitu Jawa dan Madura, diperintah langsung oleh raja dan keluarganya.
2. Konsentris kedua:
Wilayah luar Jawa (mancanegara dan pasisiran), berupa kerajaan-kerajaan otonom.
3. Konsentris ketiga:
Negara-negara sahabat (tanah sabrang), yang menjalin hubungan diplomatik dan dagang dengan Majapahit, seperti Champa, Kamboja, dan Ayudyapura (Thailand).
Struktur ini mencerminkan integrasi melalui penguasaan pusat dan hubungan dengan wilayah-wilayah luar.
b) Model integrasi colonial
Model integrasi Hindia Belanda pada awal abad ke-20 meliputi seluruh wilayah dari Sabang hingga Merauke. Integrasi wilayah dicapai melalui penguasaan maritim dan birokrasi kolonial yang terdiri dari pegawai Belanda dan pribumi. Namun, integrasi ini bersifat vertikal dan tidak melibatkan massa rakyat, sehingga tidak mampu menyatukan keragaman bangsa Indonesia.
Tujuannya hanya untuk menciptakan kesetiaan tunggal kepada penguasa kolonial, bukan untuk kesejahteraan rakyat.
c) Model integrasi nasional Indonesia
Model integrasi ketiga ini adalah proses penyatuan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan pada 1945, berbeda dari integrasi kolonial sebelumnya. Integrasi ini bertujuan membentuk bangsa yang merdeka dengan semangat nasionalisme baru. Kesadaran berbangsa tumbuh melalui pendidikan yang dipengaruhi politik etis Belanda, yang memunculkan gerakan-gerakan keagamaan, politik, dan sosial. Para tokoh dari berbagai daerah dan suku, seperti Sukarno, Hatta, dan AA Maramis, bersatu memperjuangkan kemerdekaan, merasa satu nasib, dan berjuang bersama demi kedaulatan bangsa.
Dalam sejarahnya, penumbuhan kesadaran berbangsa dilalui dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, yaitu masa perintis, masa penegas, masa percobaan dan masa pendobrak.
2. Pengembangan integrasi di Indonesia
Menurut Howard Wriggins dalam Muhaimin & Collin MaxAndrews (1995) terdapat 5 cara para pemimpin politik mengembangkan integrasi bangsa atau faktor yang menentukan tingkat integrasi suatu negara:
1) Adanya ancaman dari luar :
Dengan adanya ancaman dari luar dapat menciptakan integrasi masyarakat. Masyarakat akan bersatu, meskipun berbeda suku, agama dan ras ketika menghadapi musuh bersama.
2) Gaya politik kepemimpinan :
Pemimpin yang berkarismatik, dicintai rakyatnya dan memiliki jasa-jasa besar umumnya mampu menyatukan bangsanya yang sebelumya tercerai berai.
3) Kekuatan lembaga- lembaga politik :
Misalnya birokrasi dapat menjadi sarana pemersatu masyarakat bangsa. Birokrasi yang satu dan padu dapat menciptakan sistem pelayanan yang sama, baik, dan diterima oleh masyarakat yang beragam. Pada akhirnya masyarakat bersatu dalam satu sistem pelayanan.
4) Ideologi nasional :
Ideologi adalah seperangkat nilai yang disepakati dan memberikan panduan menuju tujuan bersama. Meski masyarakat beragam, mereka dapat bersatu dengan ideologi yang sama. Bagi Indonesia, Pancasila berfungsi sebagai nilai sosial bersama yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat.
5) Kesempatan pembangunan ekonomi :
Jika pembangunan ekonomi menciptakan keadilan, masyarakat akan lebih mudah merasa bersatu sebagai satu bangsa. Namun, jika terjadi ketidakadilan, kesenjangan ekonomi akan muncul, dan kelompok yang dirugikan cenderung sulit bersatu dengan kelompok yang diuntungkan. Ketidakadilan ekonomi dapat memicu keinginan untuk memisahkan diri. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi yang merata mempermudah tercapainya integrasi dan hubungan yang baik antar masyarakat.
D. ARGUMEN DINAMIKA DAN TANTANGAN INTEGRASI NASIONAL
1. Dinamika Integrasi Nasional di Indonesia
Terdapat banyak perkembangan dan dinamika dari integrasi yang terjadi di Indonesia. Dinamika integrasi sejalan dengan tantangan zaman waktu itu. Dinamika itu bisa kita contohkan peristiswa integrasi berdasar 5 (lima) jenis integrasi sebagai berikut:
>Integrasi Bangsa
>Integrasi Wilayah
>Integrasi Elit-Massa
>Integrasi Nilai
>Integrasi Tingkah Laku
Sebagai salah satu contohnya pada integrasi wilayah, Melalui Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957, pemerintah Indonesia mengumumkan kedaulatan wilayah Indonesia yakni lebar laut teritorial seluas 12 mil diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulau-pulau Negara Indonesia. Dengan deklarasi ini maka terjadi integrasi wilayah teritorial Indonesia. Wilayah Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah dan laut tidak lagi merupakan pemisah pulau, tetapi menjadi penghubung pulau-pulau di Indonesia.
2. Tantangan dalam Membangun Integrasi
Tantangan dalam membangun integrasi nasional Indonesia muncul dari dua dimensi utama:
Dimensi Horizontal: Perbedaan suku, agama, ras, dan geografis menciptakan potensi konflik, terutama karena kuatnya primordialisme. Ketimpangan pembangunan dapat memicu ketidakpuasan terkait isu SARA, gerakan separatisme, dan konflik antar-golongan.
Dimensi Vertikal: Perbedaan antara elite dan massa, di mana elite lebih modern dan massa lebih tradisional, sering menimbulkan kesenjangan. Kurangnya hubungan baik antara pemimpin dan rakyat, serta kebijakan yang tidak sesuai harapan rakyat, memperburuk integrasi.
Kedua tantangan ini diperparah sejak era reformasi, dengan konflik yang muncul akibat melemahnya otoritas pemerintah dan penyalahgunaan kebebasan. Tantangan globalisasi dan tarikan terhadap ikatan etnis atau kedaerahan juga memperberat upaya integrasi.
E. ESENSI INTEGRASI NASIONAL
Pentingnya menyatukan masyarakat untuk mencapai kemajuan dan kejayaan suatu negara. Integrasi yang baik memungkinkan negara membangun kesejahteraan dan mencapai tujuan nasional. Sebaliknya, konflik dalam masyarakat membawa kerugian fisik, mental, dan menghambat pembangunan.
Meskipun integrasi sepenuhnya sulit tercapai karena masyarakat selalu menyimpan potensi konflik, persamaan kepentingan dan kebutuhan untuk bekerjasama menjadi kunci integrasi. Oleh karena itu, integrasi masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan kemajuan bangsa. Kegagalan dalam integrasi dapat mengancam stabilitas negara.
KESIMPULAN
Integrasi nasional merupakan proses penting untuk menyatukan semua orang dalam sebuah negara, walaupun kita punya perbedaan suku, agama, atau budaya. Integrasi nasional berarti kita belajar hidup rukun, saling menghargai, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama. Kalau semua orang merasa bagian dari negara dan dihargai, negara bisa lebih kuat, stabil, dan berkembang. Jadi, intinya adalah bagaimana kita bisa bersatu dalam keberagaman tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Komentar
Posting Komentar